Bencana Tanah Longsor dan Banjir, JABAR peringkat teratas

image

Sumber : http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

BANDUNG, (PR).-
Bencana  longsor yang terus-menerus  menimpa wilayah Jawa Barat,  menempatkan provinsi ini di peringkat teratas daerah yang dilanda longsor. Meskipun tahun 2010 baru berjalan dua bulan, dari 33 kejadian longsor di Indonesia, sebanyak 21 di antaranya terjadi di Jawa Barat dan menelan lima korban jiwa.

Demikian diungkapkan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono kepada ”PR”, Minggu (21/2). ”Dari total kejadian rekahan tanah di Indonesia, sekitar tujuh puluh persen bencana itu terjadi di Jabar. Angka yang cukup mengkhawatirkan,” katanya.

Angka kejadian longsor di Jawa Barat, menurut Surono, kemungkinan akan terus bertambah karena tahun 2010 baru berjalan dua bulan dan musim hujan belum akan habis pada Maret 2010 mendatang.

Dibandingkan dengan data sebelumnya, dari 160 kejadian longsor di Indonesia,  83 di antaranya  terjadi di Jabar. ”Peringkatnya hanya kalah dari Sumatra Barat yang dilanda  gempa bumi lebih dahsyat, yang memberi akibat lebih besar bagi pergerakan tanah,” ungkapnya.

Berdasarkan data PVMBG, tidak ada satu pun daerah di Jabar yang luput dari potensi pergerakan tanah. Dari 26 kabupaten di Jabar, sebanyak 21 kabupaten di antaranya berpotensi besar terjadi longsor, terutama Kab. Bandung, Garut, Tasikmalaya, Majalengka, Sukabumi, Bogor, dan Cianjur yang berada pada  dataran menengah dan tinggi.

Potensi kerentanan gerakan tanah beragam, mulai dari ringan, menengah, sampai tinggi. Kebanyakan, bencana longsor berlangsung di daerah yang memiliki kerawanan potensi longsor menengah sampai tinggi. Bahkan, daerah yang pernah dilanda bencana longsor bisa kembali mengalami kejadian serupa.

”Hal itu menunjukkan betapa rentannya tanah di Jabar. Dalam sepuluh tahun terakhir, Jabar sering menempati peringkat pertama daerah yang mengalami bencana longsor. Kecuali, ya tahun 2009 kemarin,” ujarnya.

Menurut Surono, pihaknya sudah bekerja sama dengan Pemprov Jabar untuk membuat pemetaan wilayah longsor di Jabar dan selesai pada 2001. Sempat pula dilakukan sosialisasi bersama Pemprov Jabar terkait dengan potensi bencana longsor tersebut. PVMBG bahkan mengirimkan data potensi kerawanan pergerakan tanah setiap awal bulan kepada semua daerah. Namun, minimnya antisipasi bencana dari tingkat pemerintah daerah menyebabkan frekuensi longsor di Jabar terus meningkat setiap tahun.

Frekuensi longsor di Jabar lebih tinggi karena terletak di daerah vulkanik sehingga banyak terdapat titik rawan longsor. Daerah seperti itu memiliki banyak gunung berapi aktif yang membuat tanah gembur. Sedikitnya enam gunung berapi aktif terdapat di wilayah Jabar, lebih banyak dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa.

Curah hujan tinggi dan banyaknya aliran sungai menambah kesuburan tanah, kendati hal itu menunjukkan kerentanan pergerakan tanah yang tinggi. ”Namun, jangan salahkan hujan. Bencana alam itu proses alami, curah hujan hanya menjadi pemicu,” ujarnya.

Potensi longsor banyak terjadi di suatu daerah tergantung aspek tata guna lahan, kemiringan lereng, dan faktor geologi. Hutan sudah berubah menjadi kawasan pertanian yang banyak mengandung air sehingga tanah meluruh secara signifikan karena tidak ada akar pohon sebagai pengikat. Jika dulu satu rumah memiliki sepuluh pohon di halaman,  kenyataan saat ini berbanding terbalik,  satu pohon untuk sepuluh rumah.

Pesatnya pertumbuhan penduduk di Jabar menyebabkan warga berbondong-bondong membangun rumah dan menggarap tanah di daerah dengan kemiringan lereng yang tidak dapat ditoleransi. Dengan demikian, masyarakatlah yang seolah-olah memilih untuk mendekatkan diri dengan bahaya longsor karena pembangunan di kawasan yang tidak diperbolehkan.

Dari segi geologi, lapisan tanah yang terdiri atas batu lempung yang mudah menggelincir dan lepas, banyak tersebar di tanah Jabar. Jenis batu ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek saat terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas. Selain itu, tanah permukaan di Jabar memiliki sifat meloloskan air yang tinggi karena gembur dan subur.

Kondisi alam yang sudah rusak diperparah dengan kerentanan tanah akibat gempa bumi yang berlangsung 2 September 2009 lalu. Sejumlah daerah mengalami keretakan tanah ataupun patahan di gunung dan bukit. Dipicu oleh curah hujan tinggi, retakan tanah itu bergerak dan terjadilah longsor.

”Dari semua penyebab, alih fungsi hutan di Jabar menjadi faktor utama longsor. Dengan rusaknya alam, sudah pasti akan terjadi bencana. Tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi akibat tangan manusia yang mengganggu keseimbangan alam sehingga menyebabkan daya dukung lingkungan rendah,” ucapnya.

Penanganan tanah longsor terletak pada kearifan manusia dalam memahami gejala alam. Dibutuhkan pula andil pemerintah daerah dalam menyiapkan masyarakat dalam menghadapi bencana. "Ancaman bencana sudah ada, sekarang tinggal bagaimana melakukan tindakan nyata untuk menanggulangi masalah tersebut," ujarnya. (A-158)***

Mon, 22 Feb 2010 @10:23


1 Komentar
image

Wed, 22 Oct 2014 @07:31

ANGGIT M. SATOTO

ASSALAMU ALAIKUM WR. WB.
...IJIN KENALAN, DAN MOHON WAKTU BERTEMU....


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kategori
Cek Domain

Cek Nama Domain ?

INVESTASI MASA DEPAN
Blogku yg Lain

Copyright © 2021 AKWard · All Rights Reserved